Sabtu, 17 Oktober 2009

ARTI KHATAM DALAM AYAT KHATAMAN – NABIYYIN

 
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٤٠)

Muhammad bukanlah bapak, salah seorang diantara laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khatam sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"..(QS. [33]:40)


Ayat Khataman-Nabiyyin ini diturunkan di dalam rangkaian pembelaan dari Allah SWT kepada YM. Nabi Suci Muhammad Rasulullah s.a.w. atas tuduhan orang Arab Quraisy , bahwa pernikahan Rasulullah s.a.w dengan Hadhrat Siti Zainab, janda dari Zaid “anak angkat” Rasulullah s.a.w. yang dituduh mengawini janda menantunya sendiri. Tuhan menjawab cemoohan orang Quraisy terhadap Rasulullah s.a.w. yang melanggar tradisi berlaku pada saat itu yang tidak membolehkan orang mengawini janda bekas menantunya walaupun dari anak angkatnya, yang kedudukan anak angkat itu menurut adat kebiasaan orang Quraisy disamakan statusnya dengan anak sendiri.

Pada saat diturunkannya wahyu tentang Khaataman Nabiyyin tersebut, tidak pernah terpikir waktu itu oleh para sahabat Rasulullah s.a.w., bahwa khatam itu diartikan sebagai penutup untuk nabi-nabi, ini adalah berdasarkan keterangan dari YM. Rasulullah s.a.w. sendiri. Apalagi jika kita membaca keseluruhan ayat-ayat yang ada di dalam Rukuk ke-5 dari Surah Al Ahzaab ini bahkan di keseluruhan Surah al Ahzaab pun tidak ada disinggung satu pun indikasi yang berkenaan dengan inniy aakhirul-anbiya’ atau laa nabiyya ba’di; tetapi yang ada disebutkan di dalam surah ini Al Ahzaab ini adalah: Jangan engkau mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dan orang munafik (ayat 1, dalam hal status anak angkat dll.), menjadikan istri-istrimu sebagai ibu dan anak-anak angkatmu sebagai anak sendiri (ayat 4), tetapi panggillah anak ini dengan nama bapak mereka (ayat 5), dan Kami pun mengatur pernikahan engkau dengan Zainab, yang janda dari Zaid anak angkat engkau itu; di mana sama sekali tidak ada sesuatu pun yang akan mencemarkan nama engkau, di mana engkau adalah Khaataman Nabiyyin.

Selain yang artinya penutup (yaitu khatim) ada banyak arti dari kata Khatam yaitu: Cincin, perhiasan (bagi yang memakainya), meterai, segel, yang membenarkan, yang paling afdhal, yang paling mulia, yang terbaik, sebagai pujian terutama kalau dikaitkan dengan kata benda plural / jamak, dan hanya sebagai penutup (khatim), terutama kalau dikaitkan dengan kata benda singular. Dalam tata bahasa Arab, kata Khaatam jika digandeng dengan kata jamak maka artinya bukan lagi terakhir atau penutup melainkan yang paling sempurna, paling afdhal. Contohnya:

1. Nabi s.a.w. bersabda kepada Hadhrat Ali r.a. : Aku adalah khatam dari nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah khatamul aulia (khatam dari Wali-wali) (Tafsir Safi & Jalandari), benarkan Ali penghabisan dari wali-wali? Tentu bukan, karena di sini diartikan bahwa Hadhrat Ali sebagai yang paling mulia di antara wali-wali.

2. Imam Safi’i r.h. (767-820) juga disebut “khaatam-ul auliya” (Al Tuhfatus-Sunniyya, hal. 45).

3. Rasulullah s.a.w. berkata kepada Umar r.a.: Tenteramkanlah hatimu hai Umar, sesunguhnya engkau adalah khatamul Muhajjirin (sahabat yang mengikuti pindah ke Medinah yang paling afdhal) di dalam kepindahan ini, seperti aku khataman nabiyyin dalam kenabian. (Kanzul Umal).

4. Dalam zaman-zaman berikutnya, kata khatam juga dipakai dalam arti sebagai yang paling nge-top (mulia):

5. Imam Syech Muhammad Abdul dari Mesir ditulis sebagai Khatam Al-A’immah; Imam/Pemimpin agama (Tafsir Al-Fatihah halaman 148. Apakah tidak ada imam lainnya setelah Muhammad Abduh?

6. Abu Tamaam At-Ta-i (804-805) ditulis oleh Hasan ibnu Wahab sebagai Khatimus-syuara (Ahli syair). (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1 hal 123, Kairo). Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi?

7. Untuk Syekh Rasyid Ali Ridha ditulis sebagai Khatamul Mufasysyiriin (Al Jaami’atul Islamiyah 1354 H).

8. Imam Suyuthi mendapat gelar khaatamu-ul- muhadditsin, ahli hadits (Hadya Al-Shiah, hal. 210).

9. Aflatun ditulis sebagai Khatamul Hakim (Mirtusuruh hal. 38), Khatam Al-Hukkam.

10. Tokoh-tokoh lainnya yang pernah ditulis/disebut sebagai Khatam Al-Kiram, Khatam Al-Wilayat (Muqaddimah Ibnu Khaldun hal. 271), Khatam Al-Jasinaniyyat, Khatam Al-Kamilin, Khatam Al-Asfiya, dalam sebutan sebagai yang paling afdhal, yang terbaik pujian terhadap seseorang yang dikagumi.
Arti kata Khatam sebagai penutup atau terakhir sebenarnya baru timbul di abad pertengahan, di mana ulama-ulama Medieval ini mulai mengartikan khataman nabiyyin itu sebagai nabi penutup dan nabi terakhir. Ada riwayat, bagaimana para ulama yang karena takutnya pada arti Khaatam sebagai yang paling afdhal, paling terbaik (kalau digabungkan dengan kata benda jamak/plural) , meterai, atau cincin, stempel, maka mereka dengan tidak takut-takutnya mempengaruhi pemerintah melalui Departemen Wakaf-nya, untuk merobah Kitab Suci Alquran, yaitu dengan merobah tulisan kata khatam dengan merobah tulisannya dengan kata khatim dalam Alquran yang diterbitkan- nya. Ini terjadi di Afrika pada tahun 1987, dan ada yang menunjukkannya kepada kita. Mereka ingin mengartikan kata khatam itu sebagai penutup dengan kata khatim, yang mereka pikir punya hak untuk menggantinya. Ini adalah perbuatan yang nyata-nyata campur-tangan terhadap keaslian KS. Alquran, hanya karena mereka takut kepada Ahmadiyah. Inilah gambaran keliru yang amat mengerikan sebagai usaha mereka untuk menyelamatkan diri dari pengaruh pendapat orang Ahmadi, mengenai arti dari kata khatam ini.

Kepercayaan tentang Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi terakhir memang pernah muncul dan sekarang kepercayaan yang demikian mestinya sudah lenyap kembali; kepercayaan mana adalah yang di-isukan oleh ulama dari zaman masa medieval (pertengahan) , bersamaan dengan kepercayaan bahwa, katanya Nabi Isa a.s. itu diangkat ke langit, dengan tubuh kasarnya dan akan turun kembali di akhir zaman.
Tentang penggunaan kata khatam yang berarti termulia, tertinggi dan sebagainya dalam berbagai istilah dalam bahasa Arab lainnya dapat dilihat pada beberapa kata di bawah ini:

1. KHATAM-USH-SHU’ARAA (seal of poets) was used for the poet Abu Tamam. (Wafiyatul A’yan, vol. 1, p. 23, Cairo).

2. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul Tayyeb. (Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian p.4)

3. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul ‘Ala Alme’ry. (ibid, p.4, footnote).

4. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. (Hayati Sa’di, p. 117.)

5. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. (Hayati Sa’di, p. 87) Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as “last”. They did not come and go at the exact same time.

6. KHATAM-AL-AULIYAA (seal of saints) for Hazrat Ali (May God be pleased with him). (Tafsir Safi, Chapter AlAhzab) Can no other person now attain wilaayat, if “seal” meant last?

7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shaf’ee. (Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45).

8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul ‘Arabee. (Fatoohati Makkiyyah, on title page).

9. KHATAM-AL-KARAAM (seal of remedies) used for camphor. (Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304) Has no medicine been found or used after camphor, if “seal” means “last”?

10. KHATAM-AL-A’IMMAH (seal of religious leaders) used for Imam Muhammad ‘Abdah of Egypt. (Tafseer Alfatehah, p. 148) Don’t we have leaders today?

11. KHATAM-ATUL-MUJAHIDEEN (seal of crusaders) for AlSayyad Ahmad Sanosi. (Akhbar AlJami’atul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 A.H.)

12. KHATAM-ATUL-ULAMAA-ALMUHAQQIQEEN (seal of research scholars) used for Ahmad Bin Idrees. (Al’Aqadun Nafees)

13. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Abul Fazl Aloosi. (on the title page of the Commentary Roohul Ma’aanee)
14. KHATAM-AL-MUHAQQIQEEN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. (Al Haraab, p. 372)

15. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. (Title page of Tafseerul Taqaan)

16. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi. (’Ijaalah Naafi’ah, vol. 1)

17. KHATAMAT-AL-HUFFAAZ (seal of custodians) for AlShaikh Shamsuddin. (AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4) A “hafiz” is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it.

18. KHATAM-AL-AULIA (seal of saints) used for the greatest saint. (Tazkiratul Auliyaa’, p. 422)

19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. (Fatoohul Ghaib, p. 43)
20. KHATAM-ATUL-FUQAHAA (seal of jurists) used for Al Shaikh Najeet. (Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 A.H.)

21. KHATAM-AL-MUFASSIREEN (seal of commentators or exegetes) for Shaikh Rasheed Raza. (Al Jaami’atul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 A.H.)

22. KHATAM-ATUL-FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. (Tafseerul Akleel, title page)

23. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Al Shaikh Muhammad Najeet. (Al Islam Asr Shi’baan, 1354 A.H.)

24. KHATAM-AL-WALAAYAT (seal of sainthood) for best saint. (Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271)

25. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN WAL MUFASSIREEN (seal of narrators and commentators) used for Shah ‘Abdul ‘Azeez. (Hadiyyatul Shi’ah, p. 4)

26. KHATAM-AL-MAKHLOOQAAT AL-JISMAANIYYAH (seal of bodily creatures) used for the human being. (Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt)

27. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. (Al Rasaail Naadirah, p. 30)

28. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Allaama Sa’duddeen Taftaazaani. (Shara’ Hadeethul Arba’een, p. 1)
29. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Ibn Hajrul ‘Asqalaani. (Tabqaatul Madlaseen, title page)

30. KHATAM-AL-MUFASSIREEN (seal of commentators) used for Maulvi Muhammad Qaasim. (Israare Quraani, title page)

31. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) used for Imam Siyotee. (Hadiyyatul Shee’ah, p. 210)

32. KHATAM-AL-HUKKAAM (seal of rulers) used for kings. (Hujjatul Islam, p. 35)

33. KHATAM-AL-KAAMILEEN (seal of the perfect) used for the Holy Prophet (pbuh). (Hujjatul Islam, p. 35)

34. KHATAM-AL-MARAATAB (seal of statuses) for status of humanity. (’Ilmul Kitaab, p. 140) We have the “highest, not “last” status.

35. KHATAM-AL-KAMAALAAT (seal of miracles) for the Holy Prophet (pbuh). (ibid, p. 140)

36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL A’IMMAH (seal of mystics of the nation) for Jesus (peace be on him). (Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184)

37. KHATAM-AL-AUSIYAA (seal of advisers) for Hazrat Ali (R.A.A.). (Minar Al Hudaa, p. 106)

38. KHATAM-AL-MU’ALLIMEEN (seal of teachers/scholars) used for the Holy Prophet(pbuh). (Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet (pbuh), but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be “last” of teacher Seal means “best” here and not “last”.

39. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) for Al Shaikhul Sadooq. (Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh)

40. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. (Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99)
Pendapat lainnya tentang masih berlanjutnya pintu Kenabian dalam Islam dapat dilihat dari berbagai hadits dan ulama berikut ini:

1. “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din `Abdur Rahman Sayuthi).

2. “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm.5).

3. Rasulullah s.a.w. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (lihat Syarh Zurqani oleh Imam Muhammad ibn `Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani).

4. Berkata Sheikh Muhyiddin Ibnu Arabi: “Maksud sabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus dan tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, ialah tidak akan ada nabi yang membawa syariat yang akan menentang syariat aku. Maka tidaklah nubuwat itu terangkat seluruhnya. Karena itu kami mengatakan sesungguhnya yang terangkat ialah nubuwat tasyri’i (kenabian yang pakai syariat), maka inilah ma’na tidak ada nabi sesudah beliau”.(Futuhatul Makkiyah, jilid II halaman 73).
Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., “Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku.” (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3) Imam Muhammad Thahir Al-Gujarati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan mebatalkan syariat beliau”….(Takmilah Majmaul Bihar, halaman 85).

5. Mulla ‘Ali Al-Qari berkata: “Maka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat “khaatamannabiyin” karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliau”….. .(Maudhuat Kabir, halaman 59).

6. Nawwab Siddiq Hasan Khan menulis: “Benar ada hadist yang berbunyi “la nabiyya ba’di” artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku tidak akan ada lagi nabi yang menasikhkan/ membatalkan syariatku”.. …(Iqtirabussa’ ah, halaman 162).

7. Imam Sya’rani berkata:”Dan sabda Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi dan rasul sesudahku, adalah maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah aku yang membawa syariat”…. (Al-Yawaqit wal Jawahir, jilid II halaman 42).

8. Arif Rabbani Sayyid Abdul Karim Jaelani berkata:”Maka terputuslah undang-undang syariat sesudah beliau dan adalah Nabi Muhammad SAW ‘khaatamannabiyyin” …..(Al- Insanul Kamil halaman 66).

9. Sayyid Waliuyullah Muhaddist Al-Dahlawi berkata:” Dan khaatamlah nabi-nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa syariat untuk manusia”…. (Tafhimati Ilahiyah, halaman 53).

10. Imam Suyuti berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Isa apabila turun nanti pangkatnya sebagai Nabi akan dicabut, maka kafirlah ia sebenar-benarnya. Maka dia (Isa yang dijanjikan) sekalipun ia menjadi khalifah dalam umat Nabi Muhammad SAW, namun ia tetap berpangkat rasul dan nabi yang mulia sebagaimana semula”…..(Hujajul Kiramah , halaman 31 dan 426).

11. Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: “tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at.”
(Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42).

12. Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau.” (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85).

13. Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan

Ilyas ‘alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin . Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.” (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

14. Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah) tercatat sebagai berikut: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau menerima ayat “khaataman-nabiyyiin.” Jika ayat “khaataman-nabiyyii n” diartikan sebagai “penutup / sesudahan / penghabisan /akhir” nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Nabi s.a.w-lah yang menerima wahyu, jadi beliaulah yang paling mengetahui arti/makna wahyu yang diterimanya.

15. Dalam Kitab Nuzulul Masih, Imam Jalaluddin Assuyuti rh (Mujaddid abad
IX) menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa tidak ada lagi
wahyu setelah nabi Muhammad saw adalah Palsu.
Kini pertanyaannya adalah apakah ada Ulama Salaf yang menafsirkan kalimat “Khaataman Nabiyyin” dalam Al Qur’an dengan mengikuti kaidah tata bahasa Arab di atas? Mengingat tafsir yang dipopulerkan oleh para Ulama saat ini terhadap kalimat Khaataman Nabiyyin yang didasarkan atas klaim ijma’ seluruh Ulama adalah penutup para Nabi dalam arti tiada lagi akan ada Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Berikut adalah penafsiran dari beberapa Ulama Salaf :

1. Umayyah bin Abi Salt dlm Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin : “Dengannya (Rasulullah saw) telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnya”.

2. Abu Ubaidah (wafat 209 H) ketika mengomentari Khair Al Khawatim dlm Naqa’id ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullahsaw sebagai khaataman nabiyyin : “Nabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabi”.

3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi (wafat 339 H) dlm mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata : “Barang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakan” Fulan khaatam kaumnya”, yakni ia adalah terbaik dari antara mereka”.

4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qur’an (al ahzab 40), maka artinya : “sebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlak”.

5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhu’at hal.59 tentang Khaatam Al Nabiyyin : “Tidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memansukhkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliau”.

6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani r.a. dlm Kitab ” Al Insanul Kamil” cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis : “Kenabian yg mengandung sya’riat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah “Khaataman nabiyyin”, ialah karena beliau telah membawa syari’at yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurna”.

7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 : “Bahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan “Khaataman Nabiyyin” begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala hal”.

8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani r.a. menulis : ” Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lain”. (Taqribul Muram, jld 2, hal 233).

9. Hazrat Sufi Muhyidin Ibn Arabi menulis : “Nubuwat dan Risalah Tasyri’i ( pembawa Syariat) telah tertutup, oleh karena itu sesudah Rasulullah saw tidak akan ada lagi Nabi pembawa/penyandang Syari’at….kecuali demi kasih sayang Allah untuk mereka akan diberlakukan Nubuwat umum yg tidak membawa syariat” (Fushushul Hakam, hal 140-141). Lagi beliau menulis dalam Futuhat al makiyyah Juz 2 : ” Berkata ia : Yakni tidak ada Nabi sesudahku yg berada pada syariat yg menyalahi syariatku , Sebaliknya apabila nanti ada (Nabi) maka ia akan berada di bawah kekuasaan syariatku”.

10. Syekh Muhammad Thahir Gujarati menulis : “Sesungguhnya yg beliau kehendaki ialah tidak ada Nabi yg mengganti syari’at beliau”. (Takmilah Majma’il Bihar, hal 85).

11. Siti Aisyah r.a. bersabda : “Hai, orang-orang kalian boleh mengatakan Khaatamul anbiya, tapi jangan mengatakan setelah beliau tidak ada lagi nabi”. (Tafsir Darul Mantsur Imam As Suyuthi, Jld V, hal.204).

12. Hz. Abdul Wahab Sya’rani (Wafat 976H) menulis : “Ketahuilah bahwa kenabian mutlak tidak tertutup, hanya kenabian syar’i (yg membawa syariat) yg telah tutup”. (Al Yawaqit wal Jawahir, jld 2,h.35)

Dari keterangan di atas maka bisa disimpulkan bahwa penafsiran Khaataman Nabiyyin sebagai Penutup Kenabian (jenis apapun) bukanlah satu-satunya penafsiran. Para penafsiran Ulama Salaf di atas menerangkan bahwa:

1. Khaatamun Nabiyyin adalah pangkat / derajat kenabian tertinggi (tersempurna) yang dikaruniai oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad saw.

2. Kesempurnaan ini juga terkait dengan nikmat syariat yang beliau bawa yaitu Islam.

3. Tidak ada Nabi lagi yang akan datang yang akan melampaui atau bahkan membatalkan kesempurnaan derajat dan syariat beliau (Beliau saw penutup Kenabian Syar’i).

4. Tidak semua jenis kenabian tertutup, hanya kenabian yang membawa syariat yang tertutup.

5. Jika ada Nabi yang datang maka akan tunduk dalam syariat Islam dan berasal dari umatnya.

--0Oo0O--

Jumat, 16 Oktober 2009

Seminar Membahas Kesalahpahaman Tentang Konsep Islam

Apa arti dari jihad? Apa itu syariah? Berapa istri yang dimiliki oleh Nabi Muhammad, dan apakah beliau tetap mempertahankan pernikahan dengan mereka terus menerus?

Topik-topik tersebut dibahas pada hari Minggu dalam suatu seminar untuk wanita yang disponsori oleh Perkumpulan Komunitas Wanita Muslim Ahmadiyah Buffalo Chapter (Women’s Auxiliary of the Ahmadiyya Muslim Community’s Buffalo chapter). Sekitar 100 wanita, kebanyakan muslim, menghadiri acara yang digelar di Hotel Millennium di Cheektowaga. Seminar ini sebagian merupakan respon terhadap kasus Aasiya Zubair Hassan, seorang muslimah, istri dan ibu yang dipenggal oleh suaminya seorang pria kelahiran Pakistan, dan partner bisnisnya di studio televisi Orchard Park.


"Kejahatan tersebut berlabelkan 'membunuh untuk kehormatan'. Kami ingin orang tahu bahwa tidak ada istilah demikian dalam Islam," kata Tahmina Rehman, penyelenggara seminar dan ketua dari organisasi Buffalo Chapter.

Shanaz Butt, moderator acara tersebut, yang juga merupakan dekan di bagian riset dan pasca sarjana, dan seorang dosen di bidang farmakologi Sciences University di Philadelphia, mengatakan bahwa miskonsepsi dalam Islam, mencakup diantaranya tentang Jihad, yang seringkali dikaitkan dengan militerisme, kekerasan dan pertumpahan darah.

Namun arti sesungguhnya dari Jihad adalah berjuang, berupaya, kata Butt. "Seorang siswa yang berupaya untuk lulus dalam ujian adalah seorah mujahid. Seorang Ibu yang membesarkan anak-anaknya adalah mujahid. Para peserta seminar disini juga mujahid, karena kita sedang berjuang," katanya menambahkan.

Seringkali Islam diartikan terbelakang dan barbar, memandang wanita sebagai sosok yang lemah dan tertindas oleh agama yang menekan mereka, kata para pembicara. Mereka mengakui bahwa beberapa wanita muslim tidak diperlakukan dengan baik, namun hal tersebut tidak dapat disalahkan pada hukum agama Islam atau syariah. Masalahnya adalah mereka yang salah menginterpretasikan ajaran agama untuk disesuaikan dengan keinginan mereka sendiri.

"Mereka menggunakan interpretasi yang berbeda, karenanya, kita melihat aksi terorisme yang diatasnamakan Islam. Beberapa menggunakan interpretasi untuk melakukan kekerasan dan memukul istri-istri," kata Saliha Malik, seorang dosen di Universitas Brown, yang masuk Islam tahun 1987. Hubungan Nabi Muhammad dengan 12 istrinya, kata pembicara, menunjukkan perannya sebagai role model dalam memperlakukan seorang istri.

Walaupun Rasulullah memiliki banyak istri, beliau bermonogami selama 25 tahun perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadija. Beliau kemudian berpoligami setelah Khadija wafat, kata Malik, namun bukan untuk memenuhi hasrat badaniahnya. Pernikahan-pernikahan beliau menjadi contoh bagaimana seorang suami harus memperlakukan istrinya, kata Nusrat Rashid, seorang pengacara di Philadelphia, dan pembicara tamu.

Sebagai tambahan, Muhammad saw. mempersatukan berbagai suku bangsa dalam Islam melalui perkawinannya, dan ia menunjukkan kasih sayang, keadilan pada para wanita. Sebelas orang istri lainnya diantaranya adalah janda-janda yang lebih tua, dua orang janda perang, seorang budak bukan Arab, seorang janda yahudi yang masuk Islam dan seorang janda yang memiliki anak-anak kecil.

"Muhammad tidak pernah memukul istri-istrinya. Ia tidak membentak mereka. Apabila istri-istrinya marah padanya, beliau menjauh sesaat dari mereka," kata Malik, yang merujuk pada ayat-ayat tertentu di Al Quran yang membuktikan hal tersebut.

Berdasarkan ayat tersebut, kata Malik, istri-istri diciptakan agar suami merasa tenang dekat mereka, dan adalah melanggar hukum untuk "mengambil wanita diluar kehendak mereka," atau untuk menahan mereka secara salah.

"Terdapat banyak ketidakakuratan," kata Rehman. "Kami mencoba untuk mengajari dan menjernihkan miskonsepsi ini dan mencoba membuat orang mengerti bahwa Islam adalah tentang perdamaian dan cinta, bukan pemaksaan dan penindasan". (Damayanti Natalia)

Sumber: www.buffalonews.com





Rabu, 14 Oktober 2009

Khutbah Huzur: Rasa Syukur atas Kesuksesan Jalsah UK ke-43



KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 31 JULI  2009 dari Baitul Mahdi London, U.K.

TENTANG : RASA SYUKUR KEPADA ALLAH PADA PENUTUPAN JALSAH SALANAH UK KE 43 (2009) YANG PENUH BERKAH
Dengan karunia Allah swt Jalsah Salanah UK telah berakhir pada hari Minggu yang lalu tanggal 27 Juli 2009 dengan penuh berkah dan rahmat dari Allah swt. Berkah dan rahmat Jalsah Salanah itu bukan hanya diraih oleh mereka yang hadir di dalam Jalsah itu, melainkan orang-orang Ahmadi di setiap tempat di seluruh dunia juga telah meraih banyak berkat dari Jalsah itu melalui tayangan MTA (Muslim Television Ahmadiyya). Berapa pun banyaknya kita menyatakan rasa syukur kepada Allah swt atas melimpah-ruahnya berkah-berkah yang telah Dia curahkan di dalam Jalsah Salanah itu, tidak akan memadainya. Sehingga melalui siaran MTA yang mengumandang keseluruh pelosok dunia mampu menghimpun orang-orang Ahmadi di seluruh pelosok dunia menjadi ummatan wahidah. Dan untuk itulah maksud dan tujuan dibangkitkannya Hazrat Masih Mau’ud a.s. ke dunia.

Jika orang-orang Muslim di seluruh dunia pada zaman sekarang ini memahami kenyataan ini dan menyaksikan karunia-karunia Allah swt yang turun kepada Jema’at Ahmadiyah kemudian mereka bai’at kepada Masih Muhammadi a.s., maka mereka pasti akan menjadi hamba-hamba hakiki dari Rasulullah saw. Dan setiap mata yang dikedipkan untuk menyerang dan tangan-tangan diayunkan untuk maksud-maksud jahat terhadap mereka bisa dipatahkan dengan kecintaan dan kedamaian yang murni sehingga tidak akan mendatangkan sembarang bahaya terhadap mereka bahkan sebaliknya penyerang itu akan menjadi mangsa kemurkaan dan hukuman Allah swt. Dengan karunia Allah swt kita menyaksikan permandangan perlindungan Allah swt terhadap Jema’at ini sejak seratus dua puluh tahun yang lalu. Jika Jema’at ini bukan sebuah Jema’at Ilahi semenjak dahulu sudah musnah dihancurkan oleh lawan dan musuh-musuh Jema’at yang selalu berusaha untuk membinasakan Jema’at ini dengan berbagai macam kekerasan dan kezaliman sekuat tenaga mereka.  

Sekarang saya akan menceritakan sebagian dari berbagai jenis peristiwa mengesankan berupa karunia dan berkat Allah swt yang telah dilimpahkan-Nya selama acara-acara Jalsah Salanah berlangsung. Memang berkat-berkat dan karunia yang Allah swt limpahkan dari waktu ke waktu dalam bentuk peristiwa-peristiwa sepanjang tahun setelah Jalsah Salanah ini akan kita saksikan terus-menerus. Maksud menceritakan beberapa jenis karunia dan rahmat Allah swt di dalam Jalsah ini tiada lain hanyalah untuk menyatakan rasa kagum dan syukur kepada Allah swt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa berapa pun banyaknya kita dengan ikhlas menyatakan rasa syukur kepada Allah swt atas melimpah-ruahnya berkah-berkah yang telah Dia curahkan di dalam Jalsah Salanah itu, tidak akan memadainya. Akan tetapi rasa syukur ini bisa kita nyatakan tentang yang zahir yang dapat kita saksikan dan yang kebanyakan manusia pun merasakannya. Selama Jalsah berlangsung banyak sekali karunia Ilahi turun yang kita sendiri pun tidak dapat menghitungnya atau kebanyakan manusia pun tidak bisa mengetahuinya dengan pasti. Allah swt berfirman di dalam surah An Nahal ayat 19: “Dan jika kamu ingin menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang secara berulang-ulang"

Maka hal ini harus menjadi bahan penggerak bagi kita, supaya lidah kita selalu menyatakan rasa syukur kepada Allah swt. Menyatakan rasa syukur atas nikmat-nikmat yang secara zahir bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri. Dan kita juga harus bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya yang kita sendiri tidak mampu melihatnya. Pada hari Jalsah terutama hari pertama, Allah swt telah menurunkan hujan yang sangat lebat. Sesungguhnya hujan  itu juga telah turun untuk faedah kita semua. Setelah hujan itu berhenti maka dengan karunia-Nya kita telah selamat dari setiap keburukan hujan itu yang kita sendiri tidak menyadarinya. Pada saat sekarang ini sejenis penyakit disebut Swine Flu atau Flu babi tengah merebak ke seluruh dunia yang sangat mengkhawatirkan sekali dan kita pikir, selama Jalsah berlangsung di waktu manusia sedang berkumpul datang dari berbagai tempat di dunia, kita tidak tahu pasti oleh siapa dan jenis bakteri apa yang mungkin dibawa ke sini. Dan pada situasi normal juga apabila wabah penyakit sedang berjangkit, penyakit itu menular dari seorang kepada yang lain di waktu manusia sedang ramai berkumpul. Dan kita khawatir oleh karena wabah Flu ini sedang berjangkit ke mana-mana, jangan-jangan penyakit ini akan menular kepada sebagian yang hadir pada Jalsah Salanah ini. Namun Allah swt dengan karunia-Nya telah menyelamatkan kita semua tidak ada yang terjangkit, kecuali ada dua tiga orang yang terjangkit seperti yang telah saya ketahui sendiri. Hal ini merupakan salah satu karunia Allah swt yang sangat besar bagi kita semua.

Jadi, pertama-tama kita menyatakan rasa sykur yang sangat dalam kepada Allah swt dan kita memohon berkah dan karunia-Nya yang lebih besar lagi dari itu sambil bersujud di hadapan-Nya, supaya berkah dan karunia-Nya selalu turun secara terus-menerus kepada kita semua. Sebagaimana Allah swt berfirman : fainnaallaaha syaakirum ‘aliim” (Sesunguhnya Allah Maha Menghargai amal-amal baik, Maha Mengetahui). (Al Baqarah : 159). Apabila perkataan  syaakirun dipergunakan untuk Allah swt artinya menghargai atau menghormati. Jika rasa syukur kita keluar dari lubuk hati yang dalam maka Allah swt sangat menghargai dan menghormatinya. Dan Dia berfirman : lain syakartum lazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid - Jika kamu berterimakasih tentulah akan Ku-limpahkan lebih banyak lagi karunia kepada kamu. (Ibrahim: 8). Jadi ucapan syukur dan terimakasih yang sejati akan timbul apabila kita menjadi hamba Allah swt yang selalu bersyukur dan berterima kasih atas karunia yang Dia turunkan kepada kita walau pun sekecil apa pun. Allah swt berfirman: fainnallaha syaakirun ‘aliim  Sesunguhnya Allah Maha Menghargai amal-amal baik, Maha Mengetahui. Dia Maha mengetahui siapa yang sedang menyatakan rasa syukur dengan sebenarnya. Dia tidak bisa ditipu, Dia Maha mengetahui keadaan lubuk hati manusia. Jadi, kita semua harus berusaha untuk menjadi hamba-hamba yang selalu bersyukur kepada Allah swt atas nikmat-nikmat dan karunia-Nya yang telah turun diatas kita.

Sekarang saya ingin menyatakan rasa syukur dan terimakasih kepada para petugas baik laki-laki maupun perempuan, bahkan semua yang turut bersama-sama menyaksikan bahkan di belahan mana pun di dunia yang menyaksikan dan mendengarkan pelaksanaan Jalsah Salanah ini harus menyatakan rasa syukur dan terimakasih mereka terhadap semua petugas Jalsah Salanah baik lelaki maupun perempuan, mereka yang duduk disini bersama-sama dan semua yang mendengar dan menyaksikan tayangan MTA di mana pun berada, mereka juga harus menyatakan rasa syukur dan terimakasih kepada semua petugas Jalsah tersebut. Sebab sebagian dari pengkhidmatan mereka yang sangat penting secara sukarela itu adalah merelay tayangan MTA yang menjangkau ke seluruh pelosok dunia. Dan oleh karena kita juga diperintah untuk menyatakan rasa syukur maka pernyataan syukur kita ini hakikatnya tertuju kepada Allah swt. Sebagaimana Hazrat Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia ia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah swt”. Setelah Jalsah ini berakhir setiap orang yang datang berjumpa dengan saya, mereka mengatakan bahwa dengan karunia Allah swt semua persiapan dan perlengkapan serta pelaksanaan tahun ini jauh lebih baik dari pada yang telah dilakukan di tahun yang sudah-sudah. Keterampilan para petugas pun baik lelaki maupun perempuan jauh lebih baik dibanding dengan tahun yang sudah-sudah. Mereka sangat giat dan selalu stand by menolong disertai dengan penampilan akhlaq mereka yang sangat baik dan ramah. Dalam mengkhidmati para tamu setiap kelompok pengkhidmat telah menjalankan tugas pengkhidmatan sangat baik sekali sesuai dengan kemampuan dan keterampilan mereka dan dalam melayani para tamu mereka telah berusaha mencurahkan semua pikiran dan tenaga mereka dengan semangat dedikasi yang penuh ikhlas. Atas hal itu semua para tamu juga harus bersyukur kepada Allah swt.

Dalam perjalanan pulang dan pergi dari Jalsah Gah saya sering melihat anak-anak muda kita sangat ceria dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Namun wajah mereka nampak sangat pucat disebabkan kekurangan tidur dan perasaan sangat letih, namun mereka tetap semangat berdiri di tempat menjalankan tugas mereka masing-masing. Bahkan saya mengetahui salah satu kepala bagian di tempat lelaki dan di tempat perempuan, keduanya sebagai saudara kandung. Disebabkan kurangnya istirahat dan disebabkan sibuknya menjalankan tugas-tugas atau disebabkan di waktu pagi mereka tidak sempat sarapan pagi atau di waktu malam mereka hanya makan sedikit saja, akhirnya mereka jatuh pingsan. Memang kedua kakak-beradik ini telah datang dengan niyat yang baik, hendak melaksanakan pengkhidmatan di dalam Jalsah ini sampai di mana kemampuan mereka, supaya sekejap-pun waktu jangan sampai terbuang sia-sia. Akan tetapi tindakan seperti itu ternyata salah, dan disebabkan kelalaian dalam menghadapi kesulitan itu mereka telah jatuh pingsan. Akhirnya sesuai dengan perintah  dokter mereka tidak boleh melaksanakan tugas lagi sehingga mereka luput dari kesempatan berkhidmat dan pada hari terakhir pun mereka tidak bisa menjalankan tugas lagi. Dari peristiwa ini harus diambil pelajaran, setiap orang harus memperhatikan keadaan dan kekuatan diri sendiri demikian juga para kepala bagian harus memantau keadaan bawahan mereka, waktu untuk istirahat dan waktu untuk makan para petugas harus diperhatikan dengan baik.

Jadi pendeknya, di sepanjang Jalsah sedang berlangsung nampak contoh-contoh semangat dan dedikasi para sukarelawan yang tengah menjalankan pengkhidmatan itu. Berbagai macam peringkat ruhani manusia yang mengherankan telah dianugerahkan Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. Dari antara para petugas sukarelawan itu ada orang-orang Asia dan juga orang-orang Inggris setempat ada juga orang-orang Afrika yang tinggal di negeri ini, sehingga para hadirin Jalsah terdiri dari Multi National, para petugas sukarelawan juga terdiri dari bangsa-bangsa yang berlainan. Para pendengar Jalsah juga multi nasional. Dan para petugas Jalsah juga terdiri dari berbagai bangsa. Itulah karunia Allah swt yang turun kepada Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. Anak-anak juga menunaikan tugas-tugas mereka sebagai pelayan memberi makanan dan minuman kepada para tamu sangat baik sekali. Para pemuda dan para pemudi dan semua orang-orang sudah tua juga melaksanakan pengkhidmatan mereka dengan sangat baik sekali.

Dari pihak Pemerintah juga telah ditegaskan kepada Penyelenggara Jalsah untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dengan cermat dan penuh perhatian. Untuk itu telah dibentuk juga sebuah seksi khas oleh pihak penyelenggara Jalsah itu. Dan dari pihak pemerintah bidang kesehatan dan keamanan itu telah berulang kali mengecek dan memeriksa jalannya seksi itu. Sebab seksi kesehatan & keselamatan erat kaitannya dengan setiap seksi atau bagian panitia Jalsah itu. Bahkan dengan jalsah gah juga erat sekali kaitannya, dengan para tamu juga dan dengan  para petugas Jalsah juga erat sekali kaitannya. Oleh sebab itu sebelumnya sangat memperihatinkan sekali, takut kalau-kalau ada saja yang bisa dijadikan alasan untuk mengambil sebarang tindakan dari pihak Pemerintah. Namun dengan karunia Allah swt semua pelaksanaan dan pengaturan telah sesuai dengan standard yang telah mereka tetapkan sebelumnya.

Pada hari pertama Jalsah telah saya tegaskan mengenai kebersihan untuk dijaga dengan sebaik-baiknya. Maka saya telah menerima beberapa pucuk surat dari beberapa orang tamu yang mengatakan bahwa sebagaimana Huzur telah menegaskan kepada para petugas untuk meletakkan beberapa buah kesed atau footmate dihadapan setiap pintu bilik air atau tandas supaya orang-orang membersihkan kasut (sepatu) mereka sebelum masuk bilik air atau toilet. Dan juga telah ditegaskan agar setiap pengguna bilik air ataupun tandas harus dibersihkan oleh masing-masing pengguna. Dengan karunia Allah swt semua perintah ini telah dilaksanakan oleh semua pihak dengan baik dan cermat sekali. Alhamdulillah, semoga Allah swt memberi pembalasan yang sebaik-baiknya kepada mereka. Amin !! Hal ini juga merupakan satu karunia Allah swt bahwa para peserta Jalsah telah mendapat taufiq untuk menta’ati seruan Khalifah mereka, dan mereka dengan segera mengamalkan seruan itu.

Selain itu sebagaimana telah saya singgung masalah Swine Flu  (Flu Babi) yang telah merebak kemana-mana. Untuk pencegahannya saya telah menyerukan untuk menggunakan obat Homoeopathy. Dengan karunia Allah swt seruan inipun tengah dilaksanakan dengan penuh perhatian. Para petugas yang bekerja di bawah seksi Homeopathy, mereka telah berusaha keras untuk menyediakan obat yang diperlukan itu dan obat itu telah dipergunakan sebanyak 15 sampai 20 KG setiap hari. Meramu obat sedemikian banyak bukanlah perkerjaan mudah. Obat itu atau cairan obat itu dicampur dan dimasukkan kedalam botol berisi butiran-butiran kecil (globul) lalu digoyang atau dikocok supaya cairan obat itu bersenyawa secara merata dengan butiran globul yang rasanya manis itu. Bagaimanapun Allah swt dengan karunia-Nya telah menanamkan obat penyembuh di dalam butiran-butiran manis itu. Diterima laporan dari pihak Lajnah Imaillah katanya, mula-mula banyak perempuan-perempuan yang menolak tidak mau memakan obat yang telah ditentukan itu. Mereka menolak sebabnya mereka tidak mendengar penjelasan di dalam khutbah  tentang pentingnya menggunakan obat-obatan Homeopathy yang telah ditetapkan itu. Maka para petugas mengatakan kepada mereka, jika kalian tidak mau mendengar nasihat Huzur untuk menggunakan obat ini tidak apa-apa, namun kalian harus bertanggung jawab sendiri. Setelah mendengar penjelasan demikian mereka pun segera meminta obat itu kepada para petugas. Demikianlah nampak permandangan keta’atan terhadap Jema’at di mana pun di dalam Jema’at ini. Hal itu semua merupakan nikmat-nikmat dari Allah swt walaupun  nampaknya kecil sekali.

Pada tahun ini telah diterima laporan-laporan dari pihak Markee, Tenda perempuan bahwa kaum perempuan dengan tekun dan penuh perhatian mendengarkan semua acara-acara Jalsah dengan baik dan tertib sekali. Para petugas tidak perlu banyak berdiri memberi teguran supaya para hadiraat senyap (diam) di waktu acara pidato tengah berjalan. Namun demikian seorang perempuan dari Amerika mengatakan bahwa perempuan-perempuan tidak mau diam dan kurang memberikan perhatian kepada acara Jalsah. Mungkin hal itu terjadi pada waktu tertentu hanya untuk waktu sebentar saja. Akan tetapi pada umumnya saya terima laporan bahwa kaum ibu mendengarkan ceramah dengan tekun dan mereka tidak bising. Dan kebanyakan saya lihat bahwa ada juga yang meninggalkan tempat setelah mendapat izin dari panitya untuk mencari sesuatu atau meminta obat yang diperlukan. Dan mungkin perempuan itu salah satu dari pada yang dilaporkan itu.

Namun secara tiba-tiba saya menerima laporan yang menenteramkan hati saya bahwa seorang mahasiswi dari Amerika yang baru pertama kali menghadiri Jalsah telah datang untuk berjumpa saya dan saya bertanya kepadanya, bagaimana kesan anda menyaksikan Jalsah ini, saya dengar di tempat kaum Ibu banyak sekali bising? Ia mengatakan kepada saya: “Saya duduk berpindah-pindah di beberapa tempat dan menyaksikan semua kaum ibu dan anak-anak perempuan muda juga mendengarkan acara Jalsah dengan tekun dan penuh perhatian. Khasnya mendengar Khutbah dan pidato Huzur semua mendengarkan dengan penuh semangat dan tekun serta senyap tidak ada yang bercakap-cakap. Saya sendiri sangat terkesan mendengar khutbah dan ceramah-ceramah sehingga tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Jadi orang yang telah datang mengemukakan keberatan itu di depan saya sekarang telah dibantah oleh seorang pemudi dari Amerika yang telah menjelaskannya kepada saya.

Bagaimana pun lelaki mau pun perempuan harus selalu ingat bahwa berkah-berkah Jalsah akan diperoleh apabila kita mendengarkan semua acara-acara Jalsah dengan tekun dan penuh perhatian. Kelemahan yang terdapat di dalam penyelenggaraan perlu juga dijelaskan supaya menjadi perhatian untuk masa yang akan datang. Kelemahan mereka yang saya pantau kebanyakan disebabkan oleh kesalahan para tamu juga. Jalsah Jema’at German juga hampir tiba masanya, yang keadaannya serupa dengan keadaan Jalsah di UK. Di mana pun Jalsah Salanah yang diadakan oleh Jema’at diseluruh dunia saya ingin memberi petunjuk kepada mereka juga supaya dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk itu.

Selama Jalsah berlangsung saya menerima laporan terutama para peserta yang tinggal di Islamabad, ketika mereka semua sudah pergi ke Jalsah Gah di sana telah terjadi kasus pencurian. Para tamu yang tinggal di sana harus waspada, jangan pergi meninggalkan barang-barang berharga di tempat itu dan jangan membuat susah para petugas dan terhadap diri sendiri juga. Sungguh kesalahan para tamu, sekali pun telah berulang kali diumumkan supaya barang-barang berharga itu dititipkan kepada panitya Amanat Jalsah. Barang-barang yang ditinggalkan begitu saja tanpa pengawalan atau penjagaan sewajarnya, merupakan keteledoran yang patut disesalkan. Bahkan bukan hanya keteledoran melainkan kebodohan. Tanpa peduli barang-barang berharga telah ditinggalkan begitu saja. Sebaiknya barang-barang berharga itu dibawa atau dititipkan  kepada panitya bagian penitipan barang-barang. Disetiap tempat di mana terdapat ijtima atau pertemuan orang baik-baik, di sana terdapat orang-orang yang tidak baik juga. Akan tetapi panitya juga harus mengatur perkara ini dengan sebaik-baiknya. Hal itu tugas officer Jalsah Salanah untuk mengumumkan berulang-ulang kepada seksi bersangkutan dan kepada yang tinggal di kemah-kemah juga.

Dan yang kedua ialah di mana banyak kemah-kemah didirikan sehingga merupakan sebuah perkampungan, di sana banyak orang tinggal, maka sekeliling kemah-kemah itu harus dibuat pagar kemudian buatlah satu atau dua buah gate atau pintu gerbang. Kemudian tugaskanlah seseorang penjaga gate (pintu gerbang) itu. Di Jerman juga harus diadakan persiapan seperti itu karena di sana juga akan segera dilangsungkan Jalsah Salanah. Perlu diambil pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi disini. Dan di sana juga perlu diadakan security untuk itu. Oleh karena banyak laporan diterima mengenai hal tersebut, maka saya menganggap sangat perlu sekali untuk memberi ingat kepada Jema’at tentang penjagaan keamanan terhadap harta para tamu.

Pelaksanaan dan pengurusan security (keamanan) dan traffic (lalu lintas) pada umumnya sangat baik sekali, alhamdulillah!! Sesuai dengan keadaan dan situasi zaman sekarang setiap negara harus memperhatikannya dengan  waspada dan cermat. Sejak dua tahun lepas Polisi selalu mengajukan keluhan-keluhan, namun dengan karunia Allah swt pada tahun ini sudah tidak ada sebarang keluhan lagi. Inspector police telah mengirimkan pernyataan dengan mengatakan bahwa peraturan lalu lintas telah ditaati sepenuhnya dan sangat baik sekali dan disiplin juga telah diimplimentasikan (diterapkan) dengan ketat dan sangat baik sekali, keadaan seperti ini di mana pun kami tidak pernah menyaksikannya. Dan beliau mengatakan, jika dikehendaki berita ini boleh dikirimkan kepada Surat Kabar untuk diketahui oleh masyarakat. Seorang tamu telah mengatakan kepada saya, katanya: Sekali pun banyak polise berdiri di tepi jalan utama namun saya lihat kehadiran mereka tidak perlu, sebab para petugas melaksanakan pengawasan dan penertiban traffic sangat baik sekali. Bagaimana pun pengurusan segala jenis kegiatan para petugas setiap bagian telah melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab disertai rasa pengurbanan yang dalam. Para petugas bagian tamu sangat membantu dan menolong setiap keperluan mereka, khasnya untuk transportasi pada tahun ini telah dipersiapkan sarana angkutan dengan Kereta Api yang sangat nyaman dan rapih sekali dan banyak sekali tamu yang menggunakannya dengan hati sangat senang sekali. Hampir semua mengatakan bahwa datang dan kembali dari Baitul Mahdi ke stasiun Kereta Api serta sampai ke tempat di mana meletakkan kendaraan sangat mudah dan nyaman sekali.

Seorang mengatakan kepada saya bahwa semua peserta Jalsah harus mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuan Amir Jema’at UK yang selalu datang ke tempat penginapan menanyakan apa yang kiranya bisa dibantu dan ada kekurangan apa yang perlu dipenuhi. Contoh seperti itulah yang harus selalu ditegakkan dan Jema’at disetiap negara di dunia harus menunjukkannya seperti kepada para petugas di sini. Orang-orang Jema’at yang sakit yang tidak bisa hadir atau para anggauta Jema’at di berbagai negara di dunia yang telah menyaksikan siaran MTA yang telah meng-cover semua acara Jalsah, harus menyatakan rasa syukur dan terima kasih kepada Crew MTA yang telah mengatur semua siaran dengan baik itu. Dari negara-negara Arab tidak terhitung banyaknya surat-surat pernyataan dan ucapan-ucapan tahniah atas berlangsungnya Jalsah ini dengan baik sekali, sehingga di dalam hati mereka terasa timbul penyegaran iman dengan menyaksikan dan mendengar acara-acara Jalsah tersebut. Mereka menyatakan rasa syukur dan terimakasih terhadap semua petugas MTA lelaki maupun perempuan. Saya juga menyatakan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya terhadap para petugas MTA baik lelaki maupun perempuan yang telah berkerja keras dan juga terhadap para tamu yang telah melupakan kekurangan dan kelemahan-kelemahan Crew MTA dalam menjalankan tugas mereka itu.

Terdapat sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda bahwa Malaikat Jibril telah datang dan berkata : Pada hari Qiyamat Allah swt akan membangkitkan semua makhluq-Nya dan akan berfirman kepada seorang hamba: “Hamba-Ku telah berbuat ihsan kepadamu, apakah engkau telah mengucapkan terimakasih kepadanya?” Hamba itu menjawab: “ Wahai Tuhan-ku saya tahu bahwa itu semua adalah ihsan dari Engkau. Oleh sebab itu saya telah menyatakan syukur kepada Engkau. ”Tuhan akan berfirman: “Engkau belum bersyukur kepada-Ku, sebab engkau belum menyatakan terimakasih kepada orang yang dengan perantaraannya Aku telah berbuat ihsan kepada kamu. ”Begitulah pandangan orang mukmin yang harus dikenakan terhadap mukmin lainnya. Dan perbuatan demikian harus dijadikan contoh bagi semua.

Sekarang saya akan mengemukakan beberapa kesan-kesan yang dikemukakan oleh beberapa orang tamu yang belum masuk ke dalam Jama’at, namun mereka ikut serta di dalam Jalsah kita ini karena mereka mempunyai hubungan erat dengan Jama’at,  mereka telah mendapat kesempatan untuk menghadiri Jalsah ini. Mereka terkesan oleh keterampilan dan dedikasi para petugas Jalsah dan juga sangat terkesan oleh suasana Jalsah yang mengagumkan. Demikian juga orang-orang Ahmadi yang baru pertama kali menghadiri Jalsah di sini sehingga menimbulkan perubahan dan kesan baru dan segar di dalam kehidupan mereka.

Pertama-tama seorang President of Carel Marck Party di Swedia bernama Roger Caliph, beliau berpidato di dalam Jalsah mengatakan; Di Swedia sering saya menghadiri berbagai macam pertemuan selain pertemuan yang diselenggarakan oleh partai saya sendiri juga, saya sering menghadiri jalsah-jalsah atau convention juga, banyak orang-orang asing yang hadir di dalamnya, namun suasana kecintaan dan persahabatan diantara berbagai bangsa yang hadir dan bermacam ragam pakaian para peserta, tidak pernah saya lihat seperti disini, dan khasnya setelah mereka mengikuti acara begitu panjang dan lama, ketika mereka keluar dari markee tidak nampak seorang pun yang merasa letih atau lelah, saya lihat mereka bertemu satu-sama lain disetiap kesempatan dengan rasa cinta dan persahabatan yang sangat mengesankan sehingga perasaan lelah dan letih sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Orang Swedia ini seorang politisi berumur 75 tahun mengatakan bahwa selama tiga hari saya menyaksikan suasana pergaulan yang sangat akrab dan saling mencintai sesama yang lain dan saya lihat di Jalsah Gah, satu waktu mereka berdiri bersama-sama dan satu waktu mereka duduk kemudian pergi dari sana bersama-sama pula. Selama 75 tahun saya tidak pernah menyaksikan dan menikmati pertemuan seperti ini, begitu akrab dan terasa hangatnya saling hormat-menghormati satu-sama lain.”

Sesudah itu seorang Professor dari Kazakistan, telah menulis bahwa pertemuan Jema’at Ahmadiyah ini telah berjaya, sukses menampilkan keindahan dan ketinggian ajaran Islam dan mengajarkan saling menghormati terhadap sesama pandangan dan ajaran agama atau mazhab lain. Dan usaha semacam ini tidak diragukan lagi akan memperoleh kejayaan. Semoga Allah swt memberi kemajuan dan kejayaan kepada Jema’at Ahmadiyah. Kami pertama kali datang kesini dan tidak terbayangkan sedikit pun bahwa kami akan disambut dan dihormati seperti ini, dan kami alami selama tiga hari disini.

Seorang proffessor lagi dari Kazakistan juga yang menulis katanya, “Saya sangat terkesan oleh ajaran Ahmadiyah dan ini merupakan langkah pertama bagi saya. Dan saya sudah ketahui ajaran-ajaran Ahmadiyyah ini yang betul-betul menanamkan simpati insaniyyat, aman-damai, dan saling hormat-menghormati satu sama lain dan menaruh rasa hormat terhadap semua para Anbiya. Mereka siap mengemban tugas untuk menyampaikan amanat itu ke segenap penjuru dunia. Dengan menghadiri Jalsah Salanah ini nampaklah bahwa dalam pandangan Jema’at Ahmadiyah menghargai semua makhluq dan menaruh simpati kepada mereka adalah perkara yang penting sekali. Dari pembicaraan dengan para delegasi dari berbagai negara, saya mengetahui bahwa Jema’at Ahmadiyah banyak membantu negara-negara miskin di dunia yang sangat memerlukan bantuan dalam pembangunan sekolah, hospital, perpustakaan dan sarana-sarana umum lainnya. Dan bantuan seperti itu semua sangat penting sekali. Saya menyaksikan keindahan akhlaq mereka merupakan hal yang sangat istimewa sekali. Orang-orang Ahmadi yang datang dari berbagai negara untuk menghadiri Jalsah Salanah ini sangat memahmi ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan aktif mengamalkannya. Dan kami menyadari bahwa melayani dan mengkhidmati puluhan ribu orang tamu adalah pekerjaan yang sangat susah sekali. Sedangkan mereka yang melaksanakan tugas di dalam Jalsah Salanah ini hanya mengharapkan keridhaan dari Tuhan mereka.”

Demikianlah pandangan seorang tamu ini yang harus selalu diingat, bahwa semua para petugas Jalsah Salanah mengkhidmati para tamu semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Selain itu seorang perempuan dari Kazakistan menyampaikan pernyataannya, “Perangai dan perilaku orang-orang yang melayani kami sebagai tamu demikian baiknya seakan-akan kami ini tamu-tamu yang telah lama mereka tunggu-tunggu kedatangan kami. Keadaan dan keperluan-keperluan kami sangat diperhatikan oleh mereka. Kami dengan hati ikhlas mendo’akan untuk kemajuan Jema’at Ahmadiyah ini dan semoga ajaran hakikinya berkembang dengan pesat hingga menembus kota-kota dan kampung-kampung di seluruh pelosok dunia.”

Seorang Menteri Luar Negeri dari Benin (Afrika) Dr H. Alexander (seorang Kristen), di waktu saya mengunjungi negaranya beliau ini sengaja datang menyambut saya, dan sejak itulah terjadi persahabatan yang akrab dengan beliau. Beliau menulis: “Ahmadiyah adalah Islam sejati dan Islam yang hakiki ini hanya bisa berkembang melalui Ahmadiyah ini. Saya baru melihat Islam yang sebenarnya melalui Ahmadiyah, dan sebelum ini saya tidak pernah melihat ajaran seperti ini ditampilkan oleh kelompok-kelompok Islam lainnya. Dan apa yang mereka tampilkan adalah persaudaraan sejati, keikhlasan dan pengkhidmatan insaniyyat. Semuanya merupakan asas kehidupan bermasyarakat yang paling penting sekali. Orang-orang Ahmadiyah adalah perwujudan dari slogan Love for all hatred for none. Semua mazhab atau agama harus mengambil teladan dari mereka ini. Mula-mula saya tidak yakin bahwa jumlah peserta Jalsah mencapai tigapuluh ribu atau lebih, tetapi setelah saya menyaksikan sendiri, keadaannya betul-betul sangat mengagumkan. Melayani puluhan ribu tamu, makan-minumnya, akomodasinya, dan segala jenis keperluan mereka bukan pekerjaan yang mudah. Mereka telah menunjukkan pengkhidmatan yang sangat luar biasa dengan air muka ceria, ramah-tamah dan sangat sopan-santun terhadap sesama seakan-akan mereka ini bukan makhluk biasa melainkan para malaikat telah turun dari langit dan tinggal di atas bumi ini. Dalam pengaturan pelayanan diikut sertakan anak-anak kecil juga yang nampaknya sudah dilatih dengan cermat sehingga mereka sangat lucu dan manis dalam mengkidmati dan melayani para tamu. Alangkah baiknya jika keadaan anak-anak seperti ini juga terdapat di negara kami Benin, sehingga manusia akan mengenang mereka sepanjang hayat. Saya menyaksikan suatu kelompok para pemuda Ahmadiyah yang sangat bersahabat dan giat  menciptakan suasana aman damai, keadaan seperti ini tidak terdapat dinegara kami Benin. ”Beliau menulis lagi: “Pada detik-detik bai’at Internasional dan mendengar pidato penutupan dari Huzur, saya menyaksikan dunia telah berubah (padahal beliau seorang Kristen) dan saya berharap semoga Islam ditakirkan menjadi agama kami semua dan menjadi sarana hidayah bagi kami. Di waktu bai’at Internasional saya menyaksikan orang-orang menangis sambil menyapu air mata yang bercucuran membasahi muka mereka. Saya merasakan ada sesuatu sedang turun dari langit kepada mereka dan kami pun termasuk di antara mereka. Saya ingin cepat kembali ke negeri saya Benin dan memberi tahu kepada orang-orang di negeri saya bahwa hanya Ahmadiyah-lah yang bisa menjadi tempat bernaung bagi manusia untuk menjalani kehidupan aman damai didunia. Kehidupan yang aman tenteram tidak ada rasa takut di dalamnya dan dari segi lain Jema’at inilah yang bisa menjalin kita dengan Tuhan. Hamba Allah yang benar apabila berjalan menyampaikan amanat kebenaran kepada manusia pasti banyak manusia yang menentang dan merintanginya. Akan tetapi apabila saya sudah sampai kembali kenegeri saya Benin maka tidak akan ada masalah bagi Jema’at di sana. Akhirnya beliau berkata kepada saya: “Di Benin juga sudah ada anak Tuan.”

Dari Siera Leone (Afrika Timur) Chief Justice Abdullah Shiekh Fuhana menulis: “Jalsah Salanah yang sangat luar biasa ini akan selalu menjadi kenangan bagi kami. Banyak tamu datang dari berbagai negara yang berlaku seperti saudara kandung sendiri, sama-sama menunaikan sembahyang dan sama-sama berdo’a untuk kemajuan Islam.”

Seorang Gubernur dari Burkina Faso telah menulis: “Saya yang lemah ini telah datang menghadiri Jalsah ini sebagai wakil dari negeri saya dan saya menyatakan rasa penuh simpati kepada Pemimpin Jema’at Ahmadiyah. Di dalam Jalsah ini tidak ragu lagi saya telah menyaksikan berbagai macam bangsa di dunia dan telah duduk bersama-sama di dalam Jalsah ini. Semua sangat menghormati hak sesama insan. Di dalam Jalsah yang sedang berlangsung ini tidak ada sebarang perbedaan ras atau keturunan dan bangsa, semua menjadi satu. Motto Ahmadiyah “ Love for all hatred for none” sangat jelas sekali tengah mereka amalkan. Hendaknya bangsa-bangsa di seluruh dunia mengambil faedah dan mengambil contoh dari motto tersebut. Jema’at Ahmadiyah yang dipandang dengan hormat dan kebesaran diseluruh negeri kami, dalam tempo hanya dua puluh tahun saja Jema’at Ahmadiyah telah menawan hati rakyat Burkina Faso sampai ke pelosok-pelosok negeri. Kami telah mengenal betul Ahmadiyah ini mengkhidmati insaniyat tanpa pilih keturunan, kepercayaan, dan warna kulit. Jema’at Ahmadiyah bukan hanya menyediakan santapan ruhani belaka bahkan setiap keperluan jasmani manusia juga, dan dalam menyediakannya senantiasa berdiri dibaris paling depan. Karena Ahmadiyah telah banyak membantu menyediakan sarana pendidikan, sarana air minum, sarana kesehatan yang sangat baik sekali maka pada kesempatan Hari Kebangsaan Kepala Negara Burkina Faso telah menganugerahkan medali mas sebagai penghargaan kepada Jema’at Ahmadiyah.”

Sesungguhnya kita berkhidmat kepada siapa pun dan di mana pun bukan untuk memperoleh suatu penghargaan melainkan demi kepentingan kemanusiaan. Demikianlah perasaan hati para pengkhidmat dan para petugas Jalsah Salanah juga.

Setelah itu Mrs Ibrahim Jama Garba seorang Niger dari Miami mengatakan: “Saya sangat terkesan oleh motto “Love for all hatred for none” saya menyaksikan semua orang Ahmadi tua-muda besar-kecil mempunyai perilaku yang sama terhadap semua pendatang dari berbagai tempat di dunia yang terdiri dari berbagai jenis bangsa, agama dan warna kulit mereka. Mereka memperlihatkan kecintaan kepada semua. Kami merasa sangat terkesan oleh perhatian dan pelayanan mereka yang sangat baik kepada kami yang tidak mungkin bisa kami lupakan sepanjang hidup kami.

Seorang Ahmadi dari Amerika bernama Nuruddin Sahib mengatakan; Saya pertama kali datang menghadiri Jalsah disini, melihat perilaku sangat baik dan menyenangkan dari para petugas tidak kuasa menahan air mata bercucuran. Dan saya pun mulai menangis karena sangat terharu mengenang  kepada kebaikan Tuhan yang luar biasa ini. Saya berjanji tidak lama lagi akan menulis sebuah buku tentang pengalaman yang saya saksikan dan peroleh di sini. Lidah saya tidak kuasa untuk menguraikan apa yang terkandung di dalam perasaan hati saya. Sebab mengungkapkan kemurahan, kasih sayang dan rahmat Tuhan merupakan pekerjaan yang sungguh sulit sekali. Saya ingin kembali ke Amerika setelah banyak meminum air ruhani, saya akan bertobat dari semua dosa dan akan saya tinggalkan semua keburukan saya, dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan amanat Hazrat Rasulullah saw dan Guhlam Sadiq beliau, Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada orang lain.”

Honorable Mrs Soad Rujuk, Muslimah Member of Parlement Belgium dan beliau berasal dari keturunan Arab Moroko, beliau telah memberi sambutan juga di dalam Jalsah ini, mengatakan; “Menghadiri Jalsah ini merupakan pengalaman pertama yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, saya duduk berdampingan dengan Hazrat Begum Sahibah dan beliau menjelaskan kepada saya tentang wafat Nabi Isa a.s., mengenai kemuliaan dan keagungan Hazrat Rasulullah saw dan mengenai kedatangan Hazrat Imam Mahdi Masih Mau’ud a.s dan tentang Jema’at Ahmadiyah, lebih kurang setengah jam saya mendengar penjelasan dari beliau. Sesudah itu saya dipertemukan dengan seorang muballigh dan saya duduk dekat beliau. Beliau memberi penjelasan demikian meresapnya di dalam pikiran saya sehingga hati dan pikiran saya sudah berobah total. Karena saya ingin mendapat penjelasan lebih lanjut tentang Imam Mahdi a.s. saya duduk sampai tengah malam mendengarkan penjelasan dari beliau. Setelah mengenal Ahmadiyah adalah Islam hakiki, saya telah mendapatkan kehidupan baru dari Allah swt. Melihat masa depan Ahmadiyah demikian cerah dan gamblang saya ingin terus mendapat penjelasan tentang Imam Mahdi dan Jema’at Ahmadiyah. Dan jika Tuhan menghendaki saya akan masuk ke dalam Jema’at Ahmadiyah. Dan bukan hanya saya saja yang akan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah melainkan semua saudara saya, Ibu bapak saya dan semua teman dan kerabat yang dekat dengan saya akan saya bawa sama-sama masuk ke dalam Jema’at Ahmadiyah ini. Ketika saya mendengar pidato penutupan Huzur yang berkaitan dengan orang-orang Ahmadi Bangsa Arab, Huzur mengatakan: “Kalian bangunlah!! Ini kewajiban kalian semua untuk menyampaikan amanat Hazrat Imam Mahdi a.s. dan pergilah ke Mekkah dan panjatkanlah banyak-banyak do’a di sana!” Pada waktu itu saya sangat terharu dan menangis sambil mencucurkan air mata yang tak tertahankan, sebab saya juga seorang perempuan asal bangsa Arab dan sehari sebelumnya Hazrat Begum Sahibah telah menjelaskan kepada saya tentang kebenaran Hazrat Imam Mahdi a.s. dan perlunya seorang Imam Zaman yang sangat mengesankan hati saya. Sekali pun di banyak negara orang-orang Ahmadiyah sedang diperlakukan dengan zalim dan biadab, namun saya berjanji pada Jalsah tahun depan saya akan datang kembali ke sini dan tidak akan sendirian melainkan dengan membawa para anggauta parlemen juga.”

Jadi hal itu semua merupakan karunia Allah swt  dan merupakan buah dari tabligh secara diam-diam atau secara perorangan yang tidak nampak kepada orang lain. Banyak orang terkesan dengan menyaksikan suasana Jalsah disini merupakan tabligh juga, ada juga khuddam yang bertabligh secara perorangan terhadap supir bis bangsa Iran menjelaskan tentang wafat Nabi Isa a.s. dan tentang kedatangan Hazrat Masih Mau’ud a.s. semua ini merupakan kesempatan tabligh yang sangat baik sebagai karunia Allah swt dan natijahnya akan timbul setelah beberapa waktu kemudian.

Seorang perempuan Ahmadi mengatakan saya pertama kali menghadiri Jalsah disini dan perasaan serta kesan yang menguasai pikiran saya tidak bisa dizahirkan dengan kata-kata. Menyaksikan keagungan Jalsah ini, keindahannya, pengaturannya dan menyaksikan perangai serta perilaku para petugas yang menjalankan duty mereka dengan semangat dedikasi, serentak timbul pertanyaan di dalam hati saya : “Siapakah di dunia ini yang bisa melakukan pekerjaan seperti ini, siapa yang bisa melayani tamu yang jumlahnya begitu banyak, siapa yang bisa menghimpun puluhan ribu hati manusia menjadi satu, jawabannya hanya satu adalah Tangan Tuhan dan Tangan Dialah Yang kuasa untuk menanamkan kecintaan di dalam hati manusia. Dan Dialah Yang memberi kemudahan di dalam semua pekerjaan. Duduk di tengah-tengah para peserta Jalsah keadaan diri terasa berobah secara total dan timbul kesan yang sangat dalam dan kuat di dalam hati saya yang membangkitkan semangat iman. Badan saya terasa gemetar dan air mata pun tak tertahan mengalir membasahi muka saya. Rahmat Tuhan nampak turun di semua ufuk (penjuru), hati runduk merebah dan sujud di haribaan Tuhan Maha Kuasa, sambil memohon ampun dari segala dosa yang pernah saya lakukan, sehingga saya merasa bahwa jarak perjalanan menuju akhirat sudah terasa sangat dekat sekali.”

Seorang perempuan Ahmadi bernama Riza Begum Sahibah, menulis: “Pada acara akhir Jalsah Salanah, perasaan hati saya mengatakan, apabila saya sudah kembali ke Mesir, saya akan berkata sambil berteriak kepada orang-orang di sana: Hai ummat Rasulullah (saw) bangunlah dari tidur kalian, sekarang Imam Mahdi kalian sudah datang dan tanda-tanda akhir zaman sudah zahir semuanya dan cepatlah bangkit untuk menyelidiki kebenarannya.”

Seorang perempuan bernama Azizah Amano Ode Sahibah mengatakan, saya baru pertama kali menghadiri Jalsah ini, saya sangat terkesan dan sangat merasa heran menyaksikan bagaimana mengatur tamu begitu banyak dalam satu waktu dilayani dan dikhidmati dengan baik dan teratur sekali.”

Muflih Audah berkata: “Liputan Jalsah Salanah sangat baik sekali dan saya sangat terkesan oleh pelayanan dan kebaikan dari para petugas Jalsah, sungguh menakjubkan. Semua pertanyaan yang timbul di dalam benak saya sepanjang tahun telah terjawab semua setelah saya mengikuti semua acara Jalsah Salanah ini.”

Ibrahim Kazak Sahib berkata: “Saya merasa Jalsah ini telah berlangsung sangat istimewa sekali bagi Bangsa-bangsa Arab, sehingga semua kebohongan dan tipu daya mereka akan zahir dan akhirnya insya Allah orang-orang Arab secara berbondong-bondong akan menggabungkan diri dengan Jema’at Ahmadiyah laksana sebuah bendungan telah terbongkar dan runtuh. Kecongkakan dan kesombongan para penentang akan dipatahkan. Dan tidak lama lagi masanya bendera Imam Mahdi akan berkibar dengan megah di seluruh dataran negeri Arab. Dan ilham dari Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. ini :  Yusolluna ‘alaihal arab wa abdalusy syam  Mereka akan menyampaikan selawat kepadanya dan juga para tokoh agama negeri Syam. akan segera sempurna dengan cemerlang dan semarak.

Banyak sekali surat-surat khasnya dari negara-negara Arab telah diterima yang isinya menyampaikan ucapan tahniyah atau selamat dan mubarak atas berlangsungnya Jalsah Salanah dengan penuh suksess, sehingga zahir sekali bahwa karunia Allah swt telah turun secara khas di atas Jalsah Salanah ini. Disini telah berhimpun berbagai jenis bangsa dan para hamba sahaya Hazrat Masih dan Mahdi a.s. sibuk berusaha demi meningkatkan keruhanian mereka. Dan mereka sedang berderap maju dengan  semangat keruhanian baru. Pesan dan kesan serta ucapan selamat dan mubarak berdatangan dari setiap penjuru dunia sangat banyak sekali jumlahnya, sangat menggugah perasaan dan mengharukan sehingga tidak mungkin bisa dizahirkan secara lisan. Sesuai dengan janji Allah swt kecintaan dan cinta kasih terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah ditanamkan di dalam hati para pengikut beliau a.s. yang pada zaman sekarang ini tidak ada duanya di seluruh dunia. Dan selain kepada beliau mereka sangat mencintai Khilafat juga. Semoga Allah swt meningkatkan terus keikhlasan dan kecintaan ini di dalam hati kita semua. Dan semoga rasa syukur terhadap nikmat-nikmt Allah swt lebih nampak dari masa sebelumnya. Dan semoga pusat kecintaan kita semua terletak pada Zat Allah swt. Untuk itu semua semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita, Amin !!

Alihbahasa dari Urdu Audio oleh Hasan Basri
Singapura 5 Agustus 2009

Sumber :
http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=258&Itemid=89

Selasa, 13 Oktober 2009

AHMADIYAH SELAYANG PANDANG

KATA PENGANTAR

Brosur ini terdiri dari apa yang disampaikan oleh Profesor Louis J. Hammann pada Konferensi Tahunan American Academy of Religions yang diselenggarakan di Canton Upper State New York dan pada seminar di Universitas Pennsylvania, Philadelphia.

Profesor Hammann adalah seorang sarjana terkemuka dalam ilmu perbandingan agama; saat ini ia adalah seorang pengajar ilmu agama di Gettysburg College. Ia mendapatkan gelar sarjana dari universitas Yale, Pennsylvania State dan Temple. Seorang anggota perkumpulan Kristen (anti peperangan dan persumpahan) kolega dari Friend’s Meeting di Gettysburg College. Ia juga bergabung dengan United Church of Christ (Persekutuan Gereja Kristus).
Dalam mencari tahu mengenai Ahmadiyah, pada tahun 1983 ia datang ke markas pusat internasional Jemaah Islam Ahmadiyah di Qadian dan Rabwah. Ia telah mempelajari dengan seksama mengenai Ahmadiyah dan pendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

Ia telah mempelajari dengan mendalam dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan rumit dengan cara yang sangat gamblang. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan telah memberikan ia kemampuan yang baik untuk menjelaskan apa yang dipelajarinya. Itu adalah pekerjaan yang paling mengesankan yang pernah ditulis dengan sikap netral, jujur dan adil oleh seseorang yang meneliti Ahmadiyah.
Sheikh Mubarak Ahmed
Amir and Rais-ut-Tabligh, USA
Washington, DC
July 10 1985
________________________________________
Ahmadiyah : Selayang Pandang

Pendahuluan

Ahmadiyah adalah, sebagaimana kita katakan, suatu sekte messiah dalam Islam. Untuk menghindari apa yang saya sebut sebagai "cold bath syndrome" saya akan buat kata pendahuluan dengan singkat. Pendahuluan seperti ini mungkin dapat menghindari keterkejutan dan kebingungan yang dapat mengantarkan kita kepada asingnya dunia Islam di abad sembilan belas.

Saya tidak memiliki gagasan berapa banyak diantara para pembaca yang pernah mendengar tentang Jemaat Islam Ahmadiyah. Kita akan lihat sedikit nanti dimana seorang Muslim yang shaleh, tinggal di Punjab, pada tahun 1889 mendakwakan diri bahwa ia adalah Mahdi dan Al-Masih. Ini adalah titik perhatian utama, dimana kita kembali ke tahun 1876 Mirza Ghulam Ahmad mendapatkan wahyu ketika ia berusia 41 tahun, Saat yang dramatis itu, seseorang dengan kepribadian yang shaleh telah meraih suatu taraf kesadaran diri (self-realization). Sejak itu sampai waktu kewafatannya di tahun 1908, Hz.Ahmad adalah seorang manusia dengan daya kenabian yang membawa pengikutnya kepada apa yang dapat dirasakan sebagai kebangkitan kembali Islam.

Ahmadiyah adalah gerakan pertablighan yang telah memiliki 10 juta pengikut mulai dari Indonesia dan Malaysia sampai ke Pakistan dan Afrika tengah dan Afrika barat serta Amerika. Saat ini, struktur organisasinya dipusatkan di Pakistan tengah, di kota Rabwah. Pemimpin gerakan ini sekarang adalah yang ke empat setelah wafatnya Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan). Ia adalah Mirza Tahir Ahmad, salah satu cucu dari pendiri Ahmadiyah. Di awal tahun 1985, Huzur – panggilan sayang bagi Mirza Tahir Ahmad, pindah ke London sewaktu tekanan mulai mencapai puncaknya kepada Jemaat Ahmadiyah di Pakistan.

Landasan hukum bagi siasat pemerintah (untuk melakukan tekanan) adalah pertama kalinya dengan cara mengamandemen konstitusi yang diumumkan secara resmi tahun 1974, yaitu menyatakan orang-orang Ahmadi sebagai "non-Muslim". Baru-baru ini di bulan April tahun 1984, pemerintah menetapkan suatu peraturan yang menyatakan bahwa kaum Ahmadi, dibawah ancaman hukuman, dilarang, secara langsung atau tidak langsung, untuk menyebut diri mereka sebagai Muslim atau menyebut mesjid sebagai tempat ibadahnya atau menggunakan Azan sebagaimana kaum Muslim menggunakannya untuk tujuan panggilan sembahyang. Kaum Ahmadi tidak boleh menyebarkan : dengan perkataan atau dengan menulis atau dengan mengatas-namakan agama mereka dengan maksud untuk mengajak orang lain (bergabung dengan Ahmadiyah). Mereka juga dilarang menggunakan istilah atau sebutan seperti yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad atau ahlul bayt (keluarga)-nya untuk anggota masyarakat Ahmadi atau untuk orang lain.

John Esposito telah mempersiapkan sebuah buku berjudul Suara Kebangkitan Islam (Voices of Resurgent Islam). Buku ini dan buku-buku lainnya bermaksud memperlihatkan Islam sebagai suatu agama dengan energi baru dan sebagai suatu agama yang tidak lagi layak, jika itu pernah terjadi, memberi gambaran klise dari kekerasan yang tidak masuk akal dari perampok ‘padang pasir’. Sebagai pengganti dari penyederhanaan seperti itu, kita harus mencoba untuk mengerti bahwa Islam paling tidak memiliki fenomena kerumitan yang sama dengan agama Kristen. Agama yang berakar dalam Al-Quran dibungkus oleh penyederhanaan-penyederhanaan seperti itu adalah jelas tidak tepat. Tetapi bagaimana kita mengubah pola pikiran kita sebagai pengamat, ilmuwan dan pengajar dalam konteks ini untuk mampu memahami keragaman pengalaman beragama yang mempersatukan komunitas manusia ? Kita harus masuk ke dalam tradisi sejarah agama-agama, tapi kita juga harus membiasakan diri kita kepada kenyataan yang sekarang ada pada mereka.

Ahmadiyah adalah, jika ini adalah motivasi kita, layak untuk dicermati. Melalui Ahmadiyah kita mungkin lebih dekat kepada Islam sebagai suatu fenomena sejarah dan sebagai kenyataan yang ada masa kini. Ahmadiyah memiliki keuntungan karena terdokumentasi dengan baik. Para pengikutnya berkeinginan dan mampu untuk menampilkan pergerakan ini sebagai suatu pengalaman pribadi dan sebagai suatu yang bersejarah. Mereka juga diyakinkan oleh perintah Al-Quran "bahwa tidak ada paksaan dalam beragama". Dalam Ahmadiyah kita dapat menghargai keshalehan orang-orang Islam dan merasakan kelangsungan hidup dari Islam sebagai suatu kekuatan besar dalam dunia modern ini.
Pergerakan Ahmadiyah dalam Islam

Sebagaimana kita ketahui, pertengahan abad 19 masehi adalah masa bergaungnya keilmuan dan bergejolaknya kehidupan beragama. Ilmu pengetahuan alam dan sosial dimasak pada alat pembakar terdepan. Pada alat pembakar belakang, ketel dari tradisi agama-agama besar mulai mendidih.

Disamping perumpamaan tersebut, adanya transisi di abad 19 kepada keajaiban perubahan-perubahan dan kengerian akan abad 20 ditandai dengan pembaharuan-pembaharuan gerakan dan lahirnya kaum beragama diseluruh dunia. Bergeloranya pandangan-pandangan akan masa depan (nubuatan) dan pemulihan kisah-kisah sejarah Kristen di dunia Barat telah dikenal dengan baik. Apa yang mungkin tidak diketahui dengan baik adalah kenyataan bahwa dunia Islam juga melihat gerakan-gerakan itu yang mana Al-Quran dan nubuatan-nubuatan tertulis lainnya membawa kepada pemenuhan nubuatan itu.

Keyakinan itu telah tersebar luas mendekati lintas sejarah karir kemanusiaan. Pendekatan ini, tentu saja telah diduga. Bagaimanapun juga seseorang mungkin membenarkan keyakinan itu bahwa suatu lintasan peristiwa sedang dibuat, apakah dengan analisa sejarah atau penafsiran pandangan-pandangan nubuatan, tidak terelakkan lagi.
Kita tidak dapat dan tidak perlu memutuskan dilema ini, apakah itu adalah suatu proses sejarah, campur-tangan Tuhan atau suatu kesepakatan rahasia dari dua penilaian yang membawa dunia kepada suatu kemelut. Rupanya, keyakinan yang tersebar luas dalam lingkaran tradisi keagamaan itu, dengan adanya zaman baru dari transformasi keilmuan, sosial dan politik juga disertai dengan penurunan nilai-nilai moral dan spiritual.

Dewa Molokh di zaman baru industri dan ilmu pengetahuan ini adalah meminta manusia untuk mengorbankan hubungan-hubungan ketuhanan yang ada demi kesejahteraan dan kebangsaannya. Sebagaimana pandangan-pandangan yang membawa seorang manusia dalam masyarakat sekuler, desakan keagamaan di banyak bidang mencoba untuk bertahan. Hubungan perniagaan dan hubungan antar manusia telah merebut tempat persekutuan (komuni) yang dilakukan dengan Tuhan. Tidak hanya dunia yang berubah namun perubahan adalah merubah trend (kecenderungan), lamanya menggerakkan peradaban dan budaya yang tak lagi dapat menahan tekanan peristiwa melebihi kemampuan adanya pilihan-pilihan perlindungan dan pemeliharaan keagamaan, tidak lagi dapat efektif. Sebagaimana zaman baru telah terbit, akankah cahaya tetap bersinar dalam dunia yang tak bertuhan yang telah mengorbankan kebaktian dan keshalehan kepada Tuhan untuk proses yang rasional dan kemajuan materi ? Ada banyak yang tidak dapat memiliki kemungkinan itu.
Saya pikir, bagaimanapun juga, hal itu bukanlah suatu kecenderungan negatif yang menggerakkan Mirza Ghulam Ahmad kepada ramalannya. Adalah sama ragu-ragunya (bagi kita) bahwa Hazrat Ahmad hanya didorong oleh penilaian kritis dari peristiwa-peristiwa duniawi untuk menyatakan dirinya bahwa ia adalah seorang Mahdi di zaman ini. Begitulah, ia bukan seorang pembicara terkenal tentang malapetaka karena adanya suatu tekanan perasaan (depresi), juga ia tidak mengkhayalkan arti wahyu seperti cara para wartawan (atau bahkan para sejarahwan) yang mencatat kecenderungan-kecenderungan (trends) yang ada sekarang di halaman-halaman opini pada surat kabar kita. Dari pandangannya dan darinya ia mendirikan pergerakan ini, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menjawabnya berdasarkan wahyu. Ia adalah seorang yang sangat shaleh. Nubuatan serta ucapannya (tidak hanya) terlihat sebagai ungkapan jiwa yang bersentuhan dengan trend dan peristiwa-peristiwa masa kini, namun lebih kepada ungkapan jiwa dalam persekutuan (komuni) dengan Tuhan yang hidup.

Dalam cita rasa ilmiah, kita kelihatannya mencari suatu keadaan yang mendasari perilaku seseorang. Dan selama lebih dari 100 tahun terakhir, para sarjana mencari-cari akar psikologis dari pengalaman beragama. Namun ada juga klaim yang dibuat dalam lingkaran gerakan keagamaan tertentu yang mungkin membawa kepada tidak adanya prasangka.
Apa yang Hazrat Ahmad maksud mengenai dirinya dan apa yang dimaksud oleh para pengikutnya tentang dirinya adalah cukup jelas. Perkiraannya mengenai rendahnya tingkat keshalehan dan kepercayaan kaum Muslim sebagai suatu penilaian tidaklah sesederhana itu pada kondisi sekarang bagi seorang peneliti yang peka. Pendakwaannya sebagai seorang nabi di akhir zaman ini terlihat tidak hanya psikologi khusus saja. Ia lebih merasa atau mengetahui dalam lubuk-lubuk hatinya bahwa ia "mendapatkan kedekatan yang sempurna dengan Tuhan Yang Maha Perkasa". Tidak dapat disangkal adanya landasan wahyu dari pengetahuan atas dirinya sendiri ini. Keyakinan atas kebenaran wahyu selalu merupakan landasan kekuatan bagi Ahmadiyah dan pada kesempatan yang sama sikap permusuhan ditampilkan kepada gerakan ini oleh para mullah (kyai) Islam ortodoks.

Namun mungkin kita harus kembali pada permulaan gerakan Ahmadiyah dalam Islam agar mendapat beberapa sentuhan asli yang dinamis yang telah memberikan rangsangan yang khas selama 100 tahun terakhir ini bagi 10 juta orang yang berasal dari daerah Dar al Islam (Negara Islam).

Pendiri Ahmadiyah lahir disebuah kota kecil di Punjab pada tahun 1835, di kota Qadian yang berjarak tidak lebih dari 30 atau 40 mil sebelah timur kota Amritsar, dimana terletak kuil emas kaum Sikh yang pada pertengahan tahun 1984 menjadi pusat perhatian dunia. Disana lahir Mirza Ghulam Ahmad, disebuah daerah dimana tradisi-tradisi agama kuno dan baru hidup dalam kebersamaan yang rapuh. Andrew Jackson adalah presiden Amerika Serikat, Joseph Smith dua tahun sebelumnya telah mendirikan Gereja Latter-day Saints. Louis Phillipe merupakan pemerintahan monarki dari Perancis. Dua tahun setelah kelahiran Ahmad, Victoria menjadi Ratu Inggris dalam usia 18 tahun. Chopin mencapai kejayaan dari karirnya. Dan hanya setahun sebelumnya, Friedrich Schleiermacher meninggal dunia.
Bagaimanapun, sampai umur 41 tahun (1876) Hazrat Ahmad mulai menerima banyak wahyu yang akan membawanya kepada keyakinan/kepastian bahwa didalam pribadinya telah genap datangnya Mahdi. "Setelahnya", sebagaimana kata Zafrullah Khan, "telah diwahyukan kepadanya bahwa ia juga adalah Al-Masih yang dijanjikan dan benar-benar seorang Nabi yang datang seperti yang telah dikabarkan dalam agama-agama utama di dunia". Ia adalah "Juara yang berasal dari Tuhan dengan jubah pakaian semua para Nabi".

Sejak pendakwaannya bahwa ia adalah Al-Masih yang dijanjikan sampai kewafatannya pada tanggal 26 Mei 1908, aktivitas kenabiannya tidaklah surut. Ia memimpin Jemaat Ahmadiyah yang pengikutnya mencapai ribuan orang. Selama di tahun-tahun awal gerakan Ahmadiyah, ia sendiri senantiasa tampil memimpin dalam pertandingan (perdebatan) dengan para pemimpin agama dan para pendakwa juru selamat yang membangkitkan rasa kepercayaan dirinya dengan bijaksana. Para penentang dan lawan-lawannya mulai dari para pemimpin Arya Samaj (Hindu) sampai pendeta Kristen di India dan di Amerika Serikat. Melalui semua konflik pribadi yang diembannya sebagai pemenuhan pendakwaan kenabiannya, ia terus membawa perintah-perintah wahyu yang tujuannya adalah kepada kemajuan Islam dalam zaman baru yang sedang tampil didepan.

Semua energi kemanusiaannya, sebagaimana dipercayai para pengikutnya, difokuskan kepada satu sebab bahwa kebangkitan Islam ini adalah genapnya pemenuhan ruhani dari semua agama-agama dunia. Namun ia bukanlah pembawa amanat yang netral. Peranannya adalah disengaja dibawah kesadaran akan rencana Tuhan. Tidak hanya memberitahukan terpenuhinya nubuatan (para nabi), namun lebih kepada takdirnya adalah untuk mewujudkan proses sejarah ketuhanan. Diantara banyak pernyataan Hazrat Ahmad yang membuktikan kepastian akan peranannya adalah: …"Adalah jelas bagiku berdasarkan wahyu Tuhan bahwa Al-Masih yang kedatangannya telah dijanjikan diantara orang Islam sejak awal, dan Mahdi yang kedatangannya telah ditetapkan Tuhan disaat merosotnya Islam dan tersebarnya kekeliruan, dan akan dibimbing secara langsung oleh Tuhan, dan mengajak orang turut ambil bagian dalam perjamuan surgawi, dan kedatangannya telah dikabarkan oleh Nabi Suci saw seribu tiga ratus tahun yang lalu, adalah aku sendiri. Wahyu Tuhan akan soal ini telah diberikan kepadaku dengan sangat terang dan terus menerus sehingga tidak lagi tersisa ruang bagi keraguan. Wahyu itu penuh dengan genapnya nubuatan-nubuatan agung yang benderang seterang siangnya hari. Seringnya (wahyu) dan jumlahnya serta kekuatan yang menakjubkan memaksa aku untuk mengakui bahwa itu terdiri dari perkataan-perkataan yang berasal dari Tuhan Yang Esa tanpa sekutu bagi-Nya, Sang Pemilik Kalam Al-Quran. Agar mendapatkan ridha Allah, aku dengan ini memberitahu kamu semua pentingnya kenyataan bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa, diawal abad ke 14 ini, memilih aku yang berasal dari-Nya bagi kebangkitan dan pendukung kebenaran ajaran Islam".

Penulis telah diberitahu bahwa ia adalah pembaharu (mujadid) zaman ini dan ketinggian ruhaninya memiliki kesamaan dengan ketinggian ruhani Yesus, putera Maria, dan keduanya saling berhubungan satu dengan lainnya dan memiliki kemiripan satu dengan lainnya.
Dan akhirnya :
"Pertanyaan yang tersisa siapakah Imam zaman ini haruslah, berdasarkan Perintah Ilahi, ditaati oleh seluruh kaum Islam, shaleh, penerima wahyu dan kasyaf. Tidak ada keraguan padaku untuk mengakui bahwa akulah Imam zaman ini".
Bagaimanapun juga, ia sangat seksama dalam melukiskan misinya : "Tapi aku adalah seorang Rasul dan seorang Nabi tanpa syariat baru dalam beberapa hal Tuhan mewahyukan padaku apa yang tersembunyi, dan karena kelemah-lembutan yang telah dilimpahkan kepadaku karena ketaatanku kepada Nabi Muhammad saw, dan karena mendapatkan namanya".
Ia berkali-kail tetap bertahan dengan pendapatnya bahwa Meterai Kenabian (khaatamul-anbiyya) tetap terpelihara. Ia adalah bagi Muhammad (nabi pembawa syariat yang memiliki Kitab) sebagaimana Yesus bagi Musa (yang memiliki hukum kuno, messias telah datang tidak untuk membatalkan, tetapi hanya menggenapkan). Ini adalah penting, kemudian untuk menghargai ketulusan Ahmadiyah adalah mencatat apa yang Ahmad tidak dakwakan. Musuh-musuhnya, bagaimanapun juga biasanya tidak berkeinginan menjadi sangat diskriminatif. Menurut mereka, pendakwaannya membahayakan pandangan yang ada mengenai akhir dari kenabian Muhammad. Hal itu mungkin terlihat sangat baik, namun pendakwaan Ahmad hanya untuk menjadi penafsir pesan Al-Quran yang terilhami dan pembawa pesan lahirnya kembali serta pembaharuan atas satu agama yang hakiki: "Bagi umat manusia tidak ada kitab lain kecuali Al-Quran, dan bagi bani Adam, tidak ada Utusan (Rasul) dan perantara lain kecuali Muhammad, yang terpilih saw". Ahmad adalah seorang nabi, bukan Nabi (pembawa syariat), Al-Quran (tidak ada Quran lain), Kitab (tidak ada kitab suci lain), (juga) bukan sebuah buku diantara banyak (buku), Islam agama asli yang dipulihkan oleh sokongan Ahmad.
Masih banyaknya kaum Muslim yang merasa gusar dan terhina, alasannya tidak diragukan lagi adanya kekolotan yang wajar atas keimanan, dan nampaknya akibat dari hal tersebut adalah keinginan untuk menyalah-artikan nubuatan-nubuatannya yang penuh dengan retorika. Pada kaum Kristen juga ditemukan alasan-alasan (yang serupa) untuk diserang. Paradoks besar orang Kristen dirasakan ada di Punjab sama halnya (paradoks) itu ada pada berbagai peristiwa lain yang bahkan lebih dari kesuburan tanah : pengharapan datangnya Yesus kedua kalinya menambah suburnya penyebaran agama Kristen, sementara kenyataan adanya kemungkinan kembalinya (Yesus) terancam dengan berkurangnya semangat yang membara akan keyakinan itu. Rupanya sesuatu dirasakan lebih penting dengan menunggu datangnya seorang tamu daripada berbicara dengan tamu yang sekali datang ke ruang tamu anda. Demikianlah dengan Hazrat Ahmad. Namun kita mungkin mengerti kritikannya, dengan adanya cara pendakwaan yang rumit.
Tidak hanya dia akui bahwa ia memiliki "kesamaan yang khas dengan Yesus" namun pada sisi negatifnya, ia telah diutus …"bahwa aku akan melumpuhkan doktrin salib. Untuk itulah aku telah diutus," ia melanjutkan, "untuk memecahkan salib dan membunuh babi."

"Syrik"-nya kaum Kristen membawa mereka kepada suatu penafsiran yang aneh mengenai penyaliban. Anggapan terhadap eksekusi (penyaliban) Yesus telah diartikan sebagai suatu pengorbanan dirinya-sendiri untuk penebusan – Sebenarnya Tuhan membayar dirinya-sendiri bagi suatu penebusan agar ciptaannya memikat dengan (memiliki) kerajaan-kerajaan dan kekuatan-kekuatan atas dunia ini. Bagi kebanyakan kaum Muslim gagasan itu mungkin tidak dapat dipahami; bagi orang Ahmadi gagasan itu menjadi benar-benar suatu laknat. Sebagai pengganti dari khayalan keagamaan itu, Ahmad menawarkan suatu skenario yang kelihatannya lebih – kemungkinan lebih, karena disana buktinya dirasakan dapat diuji untuk suatu alternatif.

Di negeri Kashmir, di ibu kota Srinagar, sebuah kuburan telah ditemukan, melindungi jenazah dari seorang nabi kuno yang dikenal sebagai Yus Asaf. Ketika anggapan atas legenda ini bertemu dengan nubuatan Al-Kitab dan dengan membaca Injil-Injil secara teliti, kisah tradisional pasca penyaliban berubah secara radikal. Untuk memenuhi nubuatan bahwa messias harus mengajarkan "domba Israel yang hilang," Yesus pulih dari luka parah akibat penyaliban, pergi berpindah tempat ke arah Timur kepada domba-domba Afghan yang kesasar dan kepada suku-suku di deretan sebelah Utara India-Pakistan dimana tinggal suku-suku pengembara (nomad) yang sampai dengan hari ini budaya, agama dan sifat khas ras-nya terbuat dari bangsa Semit asli adalah merupakan sebab yang dapat diterima seluruhnya. Disana "Yus Asaf" menikah, melanjutkan pekerjaan kenabiannya, menjadi orang tua dan wafat dalam usia 120 tahun.

Keturunannya sampai generasi ke 65 masih tinggal di daerah sekitar makamnya. Dengan demikian Hazrat Ahmad telah "melumpuhkan doktrin salib" dan selanjutnya lebih memperbaiki pekerjaan Islam tradisional mengenai Yesus, putera Maryam. Kenyataan-kenyataan dan argumentasi-argumentasi yang disusun oleh Ahmad dalam bukunya Al-Masih di India, menjadi dan merupakan kisah terhindarnya Yesus dari kematian diatas salib serta perjalanannya ke India.
Kata-kata pembukaannya dalam buku itu adalah layak dicatat sebagai petunjuk atas motivasi serta pernyataannya : "Aku menulis buku ini dengan maksud untuk menjauhkan pandangan-pandangan yang keliru dan berbahaya tentang kehidupan awal dan kehidupan akhir nabi Isa as – yang sudah ada di kebanyakan golongan Islam dan Kristen – dengan mengemukakan fakta-fakta yang benar, kesaksian-kesaksian sejarah yang meyakinkan dan yang telah terbukti, serta naskah-naskah kuno umat non-Muslim lainnya. Yakni, pandangan-pandangan yang dampak-dampak mengerikannya itu tidak hanya menghambat serta menghancurkan konsep Tauhid Ilahi, melainkan pengaruhnya yang sangat buruk dan beracun sedang tampak menggerogoti keadaan akhlak umat Islam di negeri ini".
Jadi, pesan dari pendiri Ahmadiyah menjadikan suatu perubahan serius dari ajaran Gereja sama halnya dengan suatu perbaikan atas pengertian Yesus bagi kaum ortodoks Islam.

Masih ada tantangan lain yang diajukan oleh Ahmad dan pengikutnya kepada pandangan ortodoks. Masih Mau’ud melarang jihad terhadap pemerintah Inggris. Beberapa menuduhnya memiliki motif untuk kepentingannya sendiri, meskipun perintah yang ada berlawanan dengan jihad dalam kasus tertentu memperlihatkan sikap pengecut secara umum dan kurangnya gairah terhadap Islam. Seperti biasanya suatu kasus, bagaimanapun juga, motif-motif yang sebenarnya berbeda dan didasarkan atas wahyu ketimbang perhitungan-perhitungan politis. Hazrat Ahmad menjelaskan larangan terhadap jihad dengan cara sebagai berikut : "Singkatnya, dijaman Rasulullah saw, landasan jihad Islam adalah bahwa kemurkaan Tuhan telah bangkit kepada kaum yang zalim. Akan tetapi hidup dibawah pemerintahan yang baik/ramah, seperti pemerintahan ratu kita, adalah bukan jihad namanya untuk membuat rencana pemberontakan terhadapnya melainkan suatu gagasan biadab yang lahir dari suatu kebodohan".

Ia selanjutnya menyatakan, dalam nuansa bahasa yang didorong oleh misinya : "Jihad zaman ini adalah berjuang untuk meninggikan kalimat Islam, untuk menyanggah keberatan-keberatan pihak lawan, untuk mempropagandakan keistimewaan-keistimewaan ajaran Islam dan untuk menyatakan kebenaran Rasulullah saw di seluruh dunia. Ini adalah Jihad sampai Tuhan Yang Maha Besar mendatangkan suasana lain didunia ini. Semangat jihad dengan senjata kemudian dapat dialihkan jadi "Jihad Akbar", atau berjuang melawan hawa nafsu, menuju kepada disiplin ruhani yang akan memungkinkan masyarakat meraih ridha Tuhan, bangkitnya kembali Islam".

Baiklah, mari kita teruskan. Namun tidak ada waktu yang cukup bagi kita dalam suatu karangan singkat, bahkan untuk suatu pengenalan saja. Kemungkinan motif dan kekuatan gerakan Ahmadiyah dalam Islam dapat dipahami dari satu pernyataan akhir Masih Mau’ud. Sehubungan dengan janji setia dari para pengikutnya, ia bersabda :
"Hendaknya diketahui oleh semua orang yang berhati tulus yang telah mengambil janji Ba’iat bahwa tujuan dari perjanjian ini adalah dinginnya kecintaan kepada dunia dan dalam hati sanubari harus tumbuh kecintaan kepada Tuhan dan Rasulullah dan jiwa dijauhkan dari dunia ini sehingga tidak timbul keraguan untuk perjalanan selanjutnya".

Al-Quran menyatakan, "Tidak ada paksaan dalam agama". Siapa saja yang secara sukarela mengambil perjanjian dengan nabi-nya Nabi (saw), Islam tetap menjadi agama yang masa depannya dapat dicapai. Masih sanggahannya Hazrat Ahmad, "Ini bukanlah suatu ungkapan baru". Mahdi tidak menganggap untuk mengganti kedudukan mulia setiap nabi, misinya adalah hanya mengembalikan keimanan sejati dan kemurnian serta pengertian hakiki tentang Tuhan yang mana telah, sedang dan akan menjadi agama yaitu Islam.

Apapun yang muncul diluar Gerakan ini, didalam Jemaat Ahmadiyah para pengikutnya dapat menyatakan dengan kesadaran penuh mengenai diri mereka dan pendirinya.
Satu kalimat terakhir, untuk menghilangkan dugaan mengenai nama Gerakan ini adalah suatu penghormatan kepada egotisme Masih Mau’ud. Kenapa gerakan ini asalnya dinamakan Gerakan Ahmadiyah dalam Islam ? Perkataan Masih Mau’ud :

"Nama yang tepat untuk Gerakan ini dan yang mana kami lebih menyukai menyebut bagi diri kami adalah Muslim sekte Ahmadiyah. Kami telah memilih nama ini karena Rasulullah saw memiliki dua nama. Muhammad dan Ahmad; Muhammad adalah nama sifat keagungan dan Ahmad adalah nama sifat keindahannya … Tuhan telah mengatur kehidupan Rasulullah saw, kehidupannya di Mekkah sebagai manifestasi dari nama Ahmad dan kaum Islam telah diajarkan kesabaran dan ketabahan. Kehidupannya di Medinah sebagai manifestasi dari nama Muhammad, dan Tuhan dalam kebijaksanaan-Nya menetapkan untuk menghukum musuh-musuhnya. Namun ada suatu nubuatan bahwa nama Ahmad akan dimanifestasikan kembali di akhir zaman dan orang itu akan muncul dengan menyandang kualitas keindahan sebagai karakter Ahmad dan semua peperangan akan berakhir. Untuk alasan inilah telah dipertimbangkan dengan baik bahwa nama untuk sekte ini sebaiknya Ahmadiyah, sehingga tiap orang yang mendengar nama ini menyadari bahwa sekte ini telah datang untuk menyebar kedamaian serta keamanan dan tidak akan berhubungan dengan perang dan perkelahian".
Adalah benar-benar ironis bahwa suatu Gerakan yang menganjurkan perdamaian diantara kaum beragama dan, tentu saja, adalah arti dari nama agama Islam, harus dihilangkan kebebasannya dalam beribadah dan kepercayaannya serta misinya dinegara asalnya dan diberbagai tempat lainnya dalam dunia Islam. Adalah juga sejarah yang mengenaskan bahwa ajaran perdamaian ini harus dipisahkan dari Islam itu sendiri.

Louis J. Hammann
Gettysburg College
Sumber : http://www.alislam.org/indonesia/ahmadiyyat.html